24 May 2018

Bali dan Sentuhan Geneakologi dari Bagelen

Oleh: Ilhan Erda MS*

Mei ini adalah sebuah bulan yang sangat istimewa buat saya. Sambung menyambung, sebuah rentetan dari puzzle kisah manusia, waktu dan fase lainnya kembali menjadi satu kesatuan atau sebuah diorama. Bertaut tak henti untuk membuat hangat, rekat persaudaraan antar saudara se Bagelen. Anak cucu dari trah Bagelen nan Agung yang berpencar dan berdiaspora se dunia.

“Ilhan Erda, yang kamu temui ini bukan saja sosok Mutiara dari Bagelen. Baik secara moralitas, etika dan genetik  ada turunan dari  Bagelen, Pajajaran, Majapahit dan juga tanah suci Bali ini.”  tukas Dr Ketut Sendra.

Seorang Doktor Hukum yang banyak mengajar di berbagai kampus di Jakarta dan kesukaannya pada sejarah, budaya ialah wajib hukumnya karena leluhur dan adat nusantara yang semakin hari dirongrong oleh cengkeraman kaum asing.

Secara detail dan gamblang Dr Ketut Sendra yang hafal diluar kepala. Silsilah, cerita lisan, dan untold story kerajaan besar dan berpengaruh di Jawa Bali pada masanya ini menuturkan bagaimana di Bali, tepatnya di desa Sawangan ,sekarang masuk di Kabupaten Klungkung Bali ada sebuah kerajaan dan sekarang juga Pura Agung dimana anggota keluarganya kental dengan darah dan histori panjang akan nama Bagelen.

Seperti dari Raja–raja yang menjabat adalah ada Raja I Swecapura 1-5 dan seterusnya ada Dalem Bagelen atau Raja 1 Puri Penawangan, dan Dalem Purbo Agung atau Raja 2 Puri Penawangan. Dalem Bagelen yang juga leluhur dari Dr Ketut Sendra ini sengaja memang sudah meninggalkan dan menyembunyikan gelar kebangsawanannya agar tidak habis akan keturunan dan juga dari perburuan dan perpecahan dengan kerajaan di Bali lainnya.

Dimana Keraton Gelgel atau Smarapura diserahkan kepada adiknya yakni Dalem Agung Jambe, dan Keraton Tampaksiring diserahkan kepada sang kakak. Dalem Bagelen sendiri memutuskan tinggal di desa Penawangan menemani sang Ibunda yakni Hyang Sukaesih sembari membuat sebuah keraton kecil atau Puri Swecapura.

Intuisi dan kepekaan rasa yang tajam dimana bahaya mengancam keluarga nya, membuat Dalem Bagelen segera mungkin meratakan dan meninggalkan Puri Secapura.

Benar saja , I Gusti Agung Maruthi yang datang dan Dalem Bagelen sudah pergi menuju ke arah Pajajaran, dan beliau akhirnya berdiam di Galuh Ciamis. Sampai periode akhir 1690an  adalah taksiran tahun yang disebutkan bahwa Dalem Bagelen menetap di Puworejo sekarang atau Bagelen –Jawa Tengah di masa lalu.

Putra kedua nya yakni Dalem Purbo Agung juga kembali ke Bagelen tapi tak lama lantas bertapa di Gunung Srandil Cilacap dan mendapatkan sebuah pusaka bernama Purba Wasesa dari sang kakek Hyang Prabu Surya Kencana.

Dr I Ketut Sendra yang merupakan pewaris dan trah dari Kerajaan Gelgel Swecapura lampau atau juga putera dari Wayan Griya ke atas menuturkan, dengan tanggung jawab besar, baik secara etika  dan moral budaya yang bisa dipertangungjawabkan. Beliau menuturkan bagaimana  ini adalah tanggung jawab bersama. Bukan saja dari fihak keluarga besar nya, tapi juga saudara-saudara Bagelen yang ada di Purworejo, Jakarta, Bali  dll nya.

“Sejarah tidak boleh disimpangkan. Di belokkan dan menuruti kepentingan penguasa. Adanya sebuah kekhilafan, kesalahan jika dilandasi dengan sebuah niat yang baik dan ketulusan adalah wajar di rasa dan boleh ada sebuah toleransi.”urai beliau.

Kira nya sebuah penutup singkat dari ikhtisar singkat ini ini ialah strategy Nyineb Wangsa yang di lakukan keluarga dan leluhur Dr I Ketut Sendra ini di zaman sekarang baru   secara gambling di urai dan di buka. Indonesia dikira sudah bisa sedikit lebih  moderat dan bijak dalam menyikapi sebuah realita sejarah.

Dr I Ketut Sendra yang merupakan keturunan ke 7 dari Dalem Di Made yakni Keraton terakhir Swecapura Gelgel-Klungkung Bali, atau ke 11 dari Prabu Brawijaya 5 dan juga turunan ke 6 dari Prabu Siliwangi dan juga Raja Pajajaran ke 6.

Dr Ketut Sendra yang berjuang mencoba  mengurai benang kusut sejarah moyang dan juga dari trah Bagelen di Bali ini. Dengan  ketekunan, dan dedikasi tinggi akhirnya beliau berhasil menyelesaikan sebuah catatan kecil dengan judul “Keraton yang Hilang di Sawangan Klungkung Bali.”

Dimana tautan atau referensia narasumber tokoh dan data juga sangat autentik, karena beliau adalah keturunan langsung dari Kerajaan Gelgel-Swecapura. Ada juga narasumber dari Puri semisal Jero Mangku Dalem Puri Smarapura, Mangku Pekak Sareng, Ida Pedande Bagus Putra dll  nya.

Ini menegaskan bagaimana secara geneakology. Mungkin Bagelen tidak melahirkan sebuah peninggalan bersejarah semisal candi atau sebuah kubah budaya yang besar. tetapi candi dan peninggalan dari Bagelen yang coba penulis susun dan catat ialah sebuah infiltrasi, manifesto atau akulturasi, incest  budaya dan pembentukan  sebuah sejarah baru, atau percampuran di sepenjuru nusantara seperti di Bali ini. Tentunya rangkaian yang  sambung menyambung  dengan kerajaan lainnya di tanah Jawa selain bali.

Dr Ketut Sendra, Ilhan Erda menawarkan dan coba kembali membuka khazanah ini. Untuk dibedah, di pelajari bersama-sama. Guna terbingkai sebuah hubungan yang baik dan saling menguntungkan antara Bagelen dan Bali.

Ternyata ada sebuah nafas yang sama, intisari nyata bahwa kita itu bersaudara. Dan nusantara bangkit dan kembali berjaya adalah harapan kita bersama. Silahkan layangkan  opini dan respon ke ilhanerda@gmail.com untuk bersua dengan Dr Ketut Sendra, Ilhan Erda dkk lainnya. Bagaimana Dr Ketut Sendra juga sedang berjuang membangun sebuah zonasi, situs baru untuk melestarikan budaya kratonik agung Jawa-Bali yang tahun ini akan dilaunching juga keberadaannya.

Salam Budaya!

_________________________________

* Peminat sejarah, budaya dan travelling. Penulis buku Mutiara dari Bagelen, Ralita & Tora, Kembang Desa dll nya. Lahir dan besar di Purworejo. Untuk berkorespondensi bisa ke email: ilhanerda@gmail.com

Category: 
Loading...
Kamis, 24 May 2018 - 10:05
Kamis, 24 May 2018 - 10:00
Kamis, 24 May 2018 - 09:52
Kamis, 24 May 2018 - 09:16
Kamis, 24 May 2018 - 09:04
Kamis, 24 May 2018 - 09:00
Kamis, 24 May 2018 - 08:54
Kamis, 24 May 2018 - 08:46
Kamis, 24 May 2018 - 06:32
Kamis, 24 May 2018 - 06:29
Kamis, 24 May 2018 - 06:27
Kamis, 24 May 2018 - 06:24

Pages