21 May 2019

Armada Aceh di Laut Merah

Oleh: Andy Wasis

 

 

 “Sejak benteng kita di Pedir hancur, armada dagang Aceh merajalela di lautan,” ujar Laksamana Laut Anthoni Galavalo kepada Gubernur Malaka.

 
“Benar. Selat Malaka sepi, jalur berpindah ke arah barat. Kalau terus-menerus dibiarkan begini, Malaka akan mati!” ujar sang Gubernur.
 
“Saya siap menanti perintah, Tuan!”
 
“Setiap kapal Aceh yang hendak berlayar ke Laut Merah, harus minta izin kepada kita!”
 
“Segera akan dikerahkan armada ke Laut Merah untuk menghadang mereka,” ujar sang Laksamana. Lalu ia bergegas keluar.

 

 
Laksamana Laut Anthoni Galvalo memerintahkan beberapa kapal perangnya untuk menghadang kapal-kapal dagang Aceh di Selat Malaka.
 
”Berhenti….!” teriak seorang kapten laut Portugis dari anjungan kapalnya. Kapalnya berlayar menghadang armada dagang Aceh.
 
“Kapal perang Portugis!” ujar nahkoda armada dagang Aceh yang di depan.
 
Ia lalu memberi isyarat agar semua kapal memperlambat pelayaran. Layar utama diturunkan sehingga laju kapal menjadi agak lambat.
 
“Apa yang Tuan kehendaki?” tanya nahkoda Aceh itu.
 
Dari anjungan kapalnya, kapten Portugis menyahut, “Sejak hari ini, kapal-kapal kalian harus mendapat izin dulu bila hendak melayari Selat Malaka!”
 
“Mendapat izin dari siapa?”
 
“Pemerintah Portugis!”
 
Nahkoda Aceh itu tertawa terbahak-bahak. Lali katanya, “Bangsa Portugis memang serakah. Sampai-sampai laut bebas pun hendak dikuasainya!”
 
Nahkoda Aceh itu kemudian memberi isyarat kepada kapal-kapal lainnya.
 
“Naikkan layar dan terus melaju!”
 
Layar-layar utama pun terkembang bagai sayap garuda. Kapal-kapal itu melaju menyusuri Selat Malaka.
 
“Kurang ajar!” gerutu kapten Portugis itu. Ia sangat geram karena tak mampu menghadang armada dagang Aceh itu. Ia pun tak berani memerintahkan untuk menembaknya karena kekuatannya tak sebanding.
 
“Kembali ke pangkalan!” Ia memerintahkan juru mudinya memutar haluan.
 
Kapal perang Portugis itu pun kembali ke pangkalannya di bandar Malaka.
 
Sang kapten segera melapor kepada Laksamana Laut Anthoni Galavalo.
 
“Mereka membangkang, Laksamana. Mereka tidak menghiraukan ketentuan kita!” ujarnya.
 
“Siapkan armada. Kejar mereka sampai ke Laut Merah!”
 
Sementara itu, di sebuah kapal dagang Aceh, seorang nahkoda berembuk dengan laksamana perang kerajaan.
 
“Orang-orang Portugis tak akan berhenti sampai di situ saja, Tuan. Pasti satu saat mereka akan menyerang armada kita.”
 
“Ya. Oleh karena itu, Sultan Ali Mughayat Syah mengutusku ke Turki untuk membeli meriam dan mempersenjatai armada ini.”
 
Armada dagang Aceh mendarat di bandar Turki. Seluruhnya enam buah kapal besar, sarat dengan muatan berbagai rempah-rempah. Mereka disambut ramah oleh penduduk setempat.
 
Utusan Sultan Aceh langsung menghadap Sultan Turki.
 
“Selamat datang, sahabatku,” sambut Sultan Turki. “Tentu kali ini Anda membawa lebih banyak rempah-rempah. Kami pun telah menyediakan berbagai manik-manik dan bahan pakaian yang cukup bagus sebagai penukarnya.”
 
“Tetapi, kali ini kami tidak membutuhkan barang-barang itu, Tuanku,” ujar sang utusan.
 
“Apa yang Anda butuhkan?” tanya Sultan Turki.
 
“Kami membawa pesan dari Sultan Ali Mughayat Syah untuk meminta bantuan senjata dan beberapa orang laskar, Tuanku.”
 
“Ha…ha…ha… Pastilah untuk menghadapi orang kulit putih yang serakah, bukan?”
 
“Benar, Tuanku.” Lalu utusan Sultan Ali Mughayat Syah menceritakan bahwa armada Aceh sudah sering dihadang Portugis.
 
“Kehendak sahabatku, Sultan Ali Mughayat Syah, akan kupenuhi,” ujar Sultan Turki pula.
 
“Terima kasih,” balas utusan Sultan Aceh dengan rasa puas dan gembira.
 
Semua rempah-rempah dibongkar dari kapal. Lalu kapal dimuati senjata dan mesiu. Meriam-meriam dipasang pula di setiap sudut kapal.
 
Selain itu, Sultan Turki juga mengirim 200 orang prajuritnya sebagai penembak meriam yang mahir dan pembuat meriam. Sultan Turki sendiri yang mengantar keberangkatan armada dagang Aceh dari dermaga itu.
 
Kapal-kapal perang Portugis pun sudah berlayar ke Laut Merah. Mereka tak dapat mengejar armada Aceh.
 
“Menyebar! Kita hadang mereka di mulut Laut Merah ini!” perintah Laksamana Laut Anthoni Galavalo.
 
Matahari sudah turun ke permukaan laut. Bola merah itu seperti tenggelam tertelan raksasa.
 
Laut tenang, angin lembut berembus. Armada Aceh melaju di permukaan laut yang berlombang-gelombang.
 
Dari jauh mereka tengah mengintai musuh. Laksamana Laut Anthoni Galavalo mengawasi dengan teropongnya.
 
“Saat hari gelap mereka memasuki alur ini. perintahkan supaya semua bersiaga. Jangan menyalakan lampu, dan tunggu aba-aba tembakan dari kapal induk ini!” perintahnya kepada bawahan.
 
“Siap, Laksamana!” seru bawahannya.
 
Namun, pelaut Aceh pun tidak lengah.
 
Dari atas Menara pengawas, seorang pengintai berseru, “Hooiii, ada titik-titik yang mencurigakan…!”
 
Para perwira laut bergegas naik ke anjungan.
 
Laksamana Aceh pun meneropong ke arah titik-titik yang kelihatan samar di kejauhan.
 
“Tampaknya kapal perang …!”
 
“Pasti kapal perang Portugis yang hendak menghadang kita, Teuku,” ujar nahkoda.
 
“Ya, bersiagalah!”
 
Seketika aba-aba diberikan, semua prajurit bersiaga. Penembak meriam pun siap di tempat masing-masing.
 
Perlahan-lahan kapal menyebar membentuk formasi kerucut.
 
Sementara itu matahari pun makin tenggelam. Cuaca menjadi gelap. Laut tenang sehingga makin terasa senyap.
 
Anthoni Galavalo kehilangan jejak.
 
“Hei, ke mana mereka? Tak terlihat kelip lampu kapal-kapal mereka!”
 
Tiba-tiba seorang prajurit Portugis melihat bayangan kapal.
 
“Hei, itu mereka ….! Mereka keluar dari kepungan kita!”
 
Seketika itu pula Anthoni Galavalo memberi perintah, “Tembak …!”
 
Salak meriam terdengar dari kapal induk Portugis. Semburan api mesiunya memancar terang. Tetapi peluru meriam itu tidak mengenai sasaran.
 
Berpedoman kepada pancaran api itu, meriam dari kapal Aceh pun menyalak.
 
Peluru meriam kapal Aceh itu jatuh di buritan kapal induk Portugis sehingga menimbulkan kebakaran.
 
“Padamkan api …! Padamkan api …!” Prajurit Portugis menjadi panik.
 
Anthoni Galavalo memandang geram ke arah buritan kapalnya yang terbakar.
 
“Jangan panik! Penembak meriam tetap pada tempatnya. Terus hujani peluru!” perintahnya.
 
Pertempuran semakin seru. Peluru-peluru meriam yang jatuh ke laut menimbulkan gelombang tinggi.
 
Sementara itu sebuah kapal Aceh terbakar dan tenggelam. Anak buahnya melompat dan berenang menyelamatkan diri.
 
Namun, tiga buah kapal Portugis karam terkena peluru meriam. Sementara itu kapal induk Portugis pun sudah miring hendak tenggelam.
 
“Kapal kita hendak tenggelam, Laksamana!”
 
Anthoni Galavalo memandang ke buritan yang sudah amblas ke laut.
 
“Turunkan sekoci!” perintahnya. Ia pun bergegas turun dari anjungan.
 
Anthoni Galavalo dengan lima orang stafnya menyelamatkan diri dengan perahu. Wajahnya murung dan kecewa.
 
“Aku tak menyangka mereka memiliki meriam tangguh,” keluhnya.
 
“Menilik suaranya, pastilah itu meriam buatan Turki,” ujar stafnya.
 
Galavalo menganggukkan kepala, lesu.
 
Fajar pun bangkit.
 
Suara azan berkumandang dari setiap kapal Aceh, “Allahu akbar. Allahu akbar.”
 
Para prajurit Aceh dan Turki sujud ke haribaan-Nya, mengucap syukur atas kemenangan mereka.
 
Hari pun terang.
 
Sebelum berlayar mereka menyelamatkan teman-teman yang mengapung di laut. Mereka juga menyelamatkan para prajurit Portugis yang terkatung-katung tanpa daya.
 
Walaupun musuh, dalam keadaan tak berdaya patut disantuni.
 
TAMAT
 
 
Catatan:
Cerita di atas disusun oleh Andy Wasis. Buku cerita fiksi ini merupakan program Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek/Bagian Proyek Penyediaan Buku Bacaan Anak-anak Sekolah Dasar. Inpres No, 6 Tahun 1984. Buku tersebut dibiayai oleh pemerintah untuk tahun anggaran 1987/1988 yang diterbitkan oleh CV. Remadja Karya.(Juft/SepintasSejarahAceh)
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...