25 May 2018

Apakah Benar Teknologi Mampu Mengubah Pola Konsumsi? Ini Jawabannya

KONFRONTASI - Kehadiran teknologi menciptakan banyak kemudahan baru. Namun, produk teknologi bukan sesuatu yang tuntas. Teknologi bergerak dinamis mengisi ruang kebutuhan baru. Kondisi yang ditopang dengan penetrasi industri telekomunikasi dan Internet di Tanah Air.

Fokus bisnis industri telekomunikasi sejak 2010 mulai bergeser dari layanan tradisional berupa pesan dan suara, menjadi layanan berbasis data. Alhasil, peningkatan pengguna Internet di Tanah Air menciptakan segmen bisnis baru berbasis dunia maya.“Penggunaan layanan data terus meningkat dan ini membuka kesempatan untuk mendapatkan revenue,” ujar Direktur Utama PT XL Axiata Tbk. Hasnul Suhaimi.

Suka tidak suka, operator harus berinvestasi besar untuk mengembangkan jaringan guna meningkatkan kualitas layanan. Salah satunya ialah menggelar layanan long term evolution (LTE) atau yang lebih dikenal dengan 4G.

Hasnul berpendapat investasi yang besar menyebabkan tarif data bakal meningkat, supaya bisnis operator tetap menguntungkan. Harga tarif data saat ini menurutnya, sangat murah sehingga dalam jangka pendek hanya menguntungkan konsumen, sementara operator harus mengencangkan ‘ikat pinggang.’

“Ini juga karena jumlah operator kita sangat banyak. Dalam jangka panjang tarif data harus naik supaya operator juga untung dan bisa terus memperbaiki layanan hingga ke pelosok,” jelasnya.

Menurutnya, salah satu bisnis cukup menonjol di Tanah Air berkat peningkatan akses Internet ialah layanan jual beli barang dan jasa menggunakan jaringan Internet atau e-Commerce. Kendati berkembang pesat, bisnis ini bukan tanpa tantangan.

Country Head Google Indonesia Rudy Ramawy menuturkan kehadiran Internet dan teknologi telah mengubah banyak hal termasuk pola konsumsi masyarakat. Bahkan, perkembangan teknologi dan Internet menyebabkan sulitnya memprediksi potret Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.

“Banyak orang memprediksi perubahan akan berlangsung lama, tetapi menurut saya bisa lebih cepat. Lihat saja, 3 tahun lalu orang masih memakai laptop untuk mengakses Internet, sekarang cukup dengan ponsel dan dalam sehari rata-rata orang Indonesia online selama 3 jam,” paparnya.

Salah satu yang menarik karena perkembangan akses Internet menurutnya, ialah minat masyarakat terhadap konten lokal dan destinasi wisata. Hal itu kemudian menjadi angin segar bagi bisnis perjalanan wisata dan industri penerbangan domestik.

BIAYA LOGISTIK

Bersamaan dengan itu bisnis e-Commerce menjamur. Jumlah pengunjung situs  e-Commerce tercatat terus meningkat, sementara volume penjualan belum meningkat signifikan.

Menurutnya hal itu berarti e-Commerce  masih membutuhkan waktu untuk mengedukasi konsumen. “Edukasi konsumen menjadi kunci, saya yakin dalam 3 tahun ke depan kita akan melihat gambaran yang sangat berbeda ketika berbicara tentang Indonesia,” imbuhnya.

Danny Oei Wirianto, CEO Mind Talk, mengklaim transaksi  e-Com-merce pada beberapa tahun terakhir terus menunjukan tren positif. Minat masyarakat untuk mencari barang menggunakan Internet juga meningkat.

“Kesempatan  e-Commerce sangat besar karena jumlah penduduk dan luas wilayah. Sayangnya biaya logistik di Indonesia sangat mahal sehingga harga barang berbeda-beda. Anehnya lagi di Indonesia terdapat 48 jenis alat pembayaran,” imbuhnya.

Persoalan biaya logistik harus diakui menjadi masalah klasik yang menyebabkan disparitas harga antara pulau di Indonesia. Danny gelisah janji Presiden Joko Widodo yang dalam banyak kesempatan akan menyeimbangkan harga antara Pulau Jawa dan luar Jawa.

Menurutnya, investasi bidang infrastruktur dan logistik menjadi keharusan jika ingin merealisasikan harga yang sama antarpulau. Sambil menunggu pembangunan infrastruktur, bisnis e-Commerce terus berjalan untuk membangun pasarnya sendiri.

Dari sisi pola konsumsi, McKinsey mencatat masyarakat Indonesia merupakan konsumen yang sangat optimistis. Sektor jasa keuangan menjadi tulang punggung untuk mendorong konsumsi masyarakat.

Guillaume de Gantes, partner McKinsey Indonesia menyebutkan pola konsumsi masyarakat Indonesia sangat berorientasi kepada keluarga (family oriented). Masyarakat juga berani mengambil risiko alias berbelanja dengan cara berutang. “Pola ini berbeda dengan negara-negara Asia lainnya yang lebih individualistis,” ujarnya.

Walaupun demikian konsumen Indonesia dinilai sangat loyal kepada suatu  brand dan memiliki perhatian yang tinggi kepada produk lokal. Masyarakat Indonesia juga dinilai cepat beradaptasi dengan produk baru.(Juft/Bsns,I)

Category: 
Loading...

Pages