21 May 2019

Agar Langsung Baca: Tergantung Reviewer!!! Karya Ilmiah Anda bisa Jadi Gak Bermutu

JOGJAKARTA- Catatan awal tahun 2019..Bila anda dosen, maka anda harus mengurusi kepangkatan. Salah satunya dengan melakukan riset dan membuat  karya tulis (buku atau artikel jurnal). Itu keharusan!! Tapi mutu tulisan anda akan dinilai oleh reviewer. Bermutu atau tidak. Itupun saya alami. Nilai maksimal sebuah buku adalah 40 dan nilai maksimal untuk publikasi di jurnal internasional adalah 40. Reviewer dengan keahliannya akan menilai skor berapa yg pas untuk karya Anda.

Ada tiga karya yg ingin saya berbagi cerita dengan para dosen.

Pertama.
Saya dulu menulis sebuah buku judulnya "Melayani Umat: Filantropi Islam dan IdeologinKesejahteraan Kaum Modernis (Jkt: Gramedia, 2010). Basis buku ini adalah penelitian saya yg didanai oleh Lp3M UMY (2006) CSRC UIN Syarif Hidayatullah dan Ristekdikti (2007). Selain studi pustaka, riset lapangan dilakukan di Yogyakarta, Bandung, Kendal dan Jakarta.  Setelah diedit, dicermati, dan diupdate, buku 430 an halaman ini terbit tahun 2010 dan diberi pengantar oleh Prof. Martin van Bruinessen. Anda tahu berapa nilai yang diberikan reviewer: 7 (TUJUH). Alasannya: "Kuno".

https://books.google.co.id/books?hl=en&lr=&id=WsGHKWgtnHEC&oi=fnd&pg=PA9...

Permintaan saya: tunjukkan satu buku saja yang membahas gerakan Muhammadiyah dengan perspektif filantropi Islam selain punya saya sebelum tahun 2006. Kalaupun kajian sudah berkembang, apakah riset lama dihargai dengan pendekatan sekarang?

Kedua.
Pada saat defense disertasi tahun 2012, seorang penguji (Prof dari Amsterdam) bertanya tentang kaitan antara filantropi Islam dan masalah kesejahteraan (welfare) dan kewarganegaraan (citizenship).

Karena saya belum mengulas isu kewarganegaraan secara khusus, saya jawab seadanya dan saya sampaikan saya perlu riset khusus tentang hal itu sebagai riset lanjutan.

Setelah defense sang professor menawari saya untuk mendalaminya dengan memberikan fellowship tahun 2013 di KITLV Belanda. Selama tiga bulan riset di Belanda saya tulis 2 artikel.

Satu artikel sekitar 40 halaman berjudul "Contesting almsgiving in post-new order Indonesia" terbit tahun 2014 di American Journal of Islamic Social Sciences, sebuah Double-blind review journal yang diterbitkan AMSS & IIIT.

https://books.google.co.id/books?hl=en&lr=&id=9nk2DwAAQBAJ&oi=fnd&pg=PA1...

Satu artikel lagi "Philanthropy and Muslim Citizenship in Post-Suharto Indonesia" terbit tahun 2016 di Southeast Asian Studies, Double-blind review journal  yg diterbitkan University of Kyoto.

https://www.jstage.jst.go.jp/article/seas/5/2/5_269/_article/-char/ja/

Yang pertama dikasih score 5 (LIMA) karena  jurnal "gak bereputasi".

Yang kedua dikasih score 0 (NOL) karena "mirip2 dengan yg lainnya."

Saya khawatir artikel saya gak dibaca  dan hanya lihat judul saja "post new order" dan
"post soeharto". Padahal Jelas argumennya beda, yg kedua adalah tentang citizenship.

Ada baiknya reviewer bisa tunjukkan ke saya: apakah ada orang lain yg pernah menulis filantropi Islam dalam perdebatan citizenship selain Hilman Latief :).

Baca "theoretical framework" nya....jauh banget....deh... Nunggu publishnya saja 6-9 bulan dengan revisi berkali-kali. Terindeks scopus pula dan Q3.

Dikasih 5 dan 0 apakah sudah layak??

Perlu dicatat, orang publkasi artikel di jurnal saya terbitan Gamping Bantul bisa dapat nilai 15-25 poin. Bahasa Indonesia lagi.

Lah ini jurnal di Amerika dan Jepang, terbit oleh lembaga riset terkemuka, hanya dapat point 5 dan 0.

Jadi penasaran juga baca karya para professor yg mereview karya saya.

Bukan hanya tidak "manusiawi" tapi juga aneh. Apakah karena saya dosen swasta...bukan ASN? Atau yang mereview bukan orang Islamic Studies? Jgn jgn artikel saya yang terbit di Cambridge dan Routledge (yg sengaja belum saya berikan) akan dinilai 2, karena "Cambridige dan Routledge adalah penerbit abal-abal" :))

Kalau kurang karya dalam pengajuan pangkat, gampang lah, tinggal ditambahin. Tapi kalau karya intelektual hasil berjibaku bertahun2 dikasih nilai 0, atau sebuah buku dihargai 7, atau 5, itu penghinaan!!!

Fairness tetap penting dalam hidup ini, termasuk di dunia akademik.

Dr Hilman Lathief, dosen UMY, Yogyakarta

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...