22 May 2018

Aedh Mengharap Kain Dari Sorga Karya: William Butler Yeats (Nobel Award Of Literature 1923)

Aedh Mengharap Kain Dari Sorga

Karya: William Butler Yeats (Nobel Award Of Literature 1923)

(CATATAN PROSES BELAJAR)

Oleh : Fendi Kachonk

 

 

Aedh Mengharap Kain

Dari Sorga

 

Seandainya aku punya kain sulaman sorga,

Berhiaskan cahaya perak dan keemasan,

Kain malam cahaya dan separoh cahaya,

Yang biru yang suram dan yang kelam,

Akan kugelar kain itu di bawah kakimu:

Tetapi, karena miskin, aku hanya punya mimpi;

Telah kugelar mimpiku di bawah kakimu;

Lewatlah hati-hati sebab kau melewati mimpiku.

 

(Terj. Sapardi Djoko Damono)

 

Bagi saya pribadi. Dalam sebuah proses panjang untuk mendapatkan berapa jawaban atas pertanyaan yang kerap datang kepada diri saya sendiri terkait puisi bagus dan tidak bagus, atau puisi gagal dan puisi berhasil, atau dengan bahasa puisi kering dan subur atau bisa dengan kata-kata kasar misalnya jelek dan sampah pada bentuk puisi yang dibaca.Maka dari sekian banyak pertanyaan dan pernyataan terkait puisi itu saya jadi bergelut dengan diri saya sendiri. Bukan berarti saya tak mau mendengarkan pendapat orang lain. Tetapi, lebih memilih melakukan proses pencarian pada diri sendiri, menggalinya dari dalam rasa dan jiwa ini.

Selama ini pun bila ada teman atau orang lain mengatakan bahwa dalam buku ada berapa puisi yang jelek dan tak sampai pesannya, atau lemah secara estetika atau secara ukuran-ukuran yang personal itu hadir. Saya akan memilih diam dan membacanya pelan-pelan serta mengenyam sebagai sebuah proses lebih lebur lagi dengan puisi. Sehingga bentuk pengetahuan dan proses yang dijalani secara personal itu membuat saya bijak mendengar pujian atau cacian. Dan, sepanjang proses itulah saya selalu menggunakan pernyataan apabila tak ada puisi yang jelek. Tapi tepatnya puisi yang tak sesuai dengan selera kita. Hal itu pun saya dalami sebagai satu cara untuk makin menguatkan bagaimana melihat potensi dan mengenali minatbahasa serta memahami selera diri sendiri. Nah, sekali ini saja saya akan memakainya untuk menguatkan proses belajar saya sendiri. Karena memang belajar tidak kenal batas waktu. Dan, hari ini  saya anggap sudah pada kesimpulan walau mungkin besok lusa mesti saya lihat kembali barangkali harus ada perubahan lagi.

            Kali ini, saya ingin belajar dari puisi William Butler Yeats yang diterjemahkan oleh Sapardi Djoko Damono. Dan, saya mengucapkan terima kasih kepada para penyair termasuk pada Sapardi Djoko Damono yang telah menerjemahkan puisi-puisi peraih Nobel sehingga generasi sastra di Indonesia dapat suguhan bahasa dunia yang bisa jadi bahan belajar. Hal serupa yang saya rasaka terhadap kebahagiaan ketika berhadap-hadapan dengan buku hasil terjemahan tersebut. Dan inilah cara belajar saya yang ketika membaca puisi lalu akan menuliskan apa yang saya dapatkan atau yang saya rasakan sehingga akan ada catatan yang berharga dari dinamika pengetahuan, rasa dan emosi yang datang pada waktu membaca puisi-puisi tersebut. Memang proses membaca dan menulis ini saya akan kumpulkan dan mungkin suatu hari nanti akan saya terbitkan menjadi buku agar proses belajar ini terdokumentasikan dengan baik, barangkali suatu saat akan menjadi penting bagi saya atau pun orang lain.

Lalu, saya membuat indikator terhadap apa yang saya pelajari selama ini. Dan, indikator keberhasilan terhadap puisi itu yaitu dengan salah satu cara. Misalnya saya akan membaca karya-karya yang memang sudah diakui oleh khalayak umum. Atau, berapa puisi yang sudah mendapatkan penghargaan semisal dari karya-karya yang diterjemahkan dalam bentuk bahasa Indonesia dari karya penyair dunia yang telah menerima penghargaan Nobel. Walaupun, mungkin ada yang tersenyum karena menilai kemampuan saya dalam membaca puisi-puisi tersebut. Tetapi, saya dari awal hanya menegaskan ini cara saya belajar yang terus ingin tahu pada kekuatan kata, keindahan kata, keberhasilan kata dan bagaimana kata memiliki kuasa menemui pembacanya.

 

  1. Tema Perbedaan dan Kemiskinan.

 

Dalam puisi William Aedh Mengharap Kain Sorga sangat mulus mengangkat tema

Perbedaan yang dengan sahdu digambarkan dengan tenang juga oleh William dan dalam puisi ini  penyair William mampu mengatasi kegelisahan, menelan emosinya dengan tenang sehingga akan sampai padanya muara bahasa yang menggetarkan jiwa serta  menelan segenap kehampaan lalu bercampur baur dalam bentuk puisi dan pengandaian. Bukankah hidup kerap selalu berandai-andai? Bukankan andaian itu ada karena satu hal yang tak mungkin?. Maka guna andaian itu seolah mendekatkan, seolah menghilangkan jarak, dan seolah itu juga kata andai itu bersebelahan atau duduk bersama dengan hal yang diandaikan tadi.

            Dari dalam kata andai itu, saya jadi tertarik mendekatkan pada satu cara subyek dan obyek. Misalnya, ada hal yang telah menjadi perhatian dari William bisa jadi tema perbedaan dan kemiskinan itu tak serta merta berbicara soal hubungan personal misalnya subyek-obyek (aku – kau). Tetapi, kemiskinan yang terbentang luas itu bisa dilihat di mana-mana dan memang kemiskinan juga begitu umum dan sebegitu biasanya.  Misalnya, anak-anak orang miskin akan berandai-andai bisa beli mainan, bisa beli baju atau bisa berandai-andai bisa sekolah sampai kuliah dan di wisuda. Atau seperti itulah tragedi kemiskinan itu kerap menjadikan tekanan dari tiap sisi kejiwaan dan renungan. Atau bisa jadi air mata ibu memeras susunya agar bayinya meminumnya meski dadanya telah kerontang dan kemarau menghisap segala kesuburan di tubuhnya.

            Misalnya lagi, saya akan terus berandai-andai mengingat cerita seseorang pada hari kemarin kalau ada satu orang yang gagah dan tegap badannya mengadukan soal tanahnya yang telah dirampas orang lain dan kalah di pengadilan. Menurutnya asal-usul tanah itu adalah miliknya yang diwariskan secara turun tumurun. Lalu, kata temanku di sela curhatannya si lelaki kekar tersebut terkadang menangis, terkadang tanpa harapan, dan berandai-andai bila tanah itu tetap jadi miliknya mungkin seluruh anak-anaknya bisa dijamin sandang dan pangannya.

            Saya pun lantas jadi mengingat berapa minggu yang lalu ketika Komunitas Kampoeng Jerami diundang dalam Seminar Internasional oleh Frans Seda Fondations yang di dalam pertemuan tersebut mengundang komunitas dan pekerja sosial untuk turut serta  mendorong dalam penanganan kemiskinan. Menurut Yuli Nugrahani yang mewakili Komunitas Kampoeng Jerami memang hadir di dalam pertemuan itu  dari berbagai negara.Sedang dari Indonesia diwakili Kompas dan Komunitas Kampoeng Jerami. Satu keberuntungan yang luar biasa karena awalnya kami merasa aneh ketika ingin memasukan sastra dalam kesetiakawanan dunia untuk berbagi peran penanganan kemiskinan. Awalnya kami berpikir tak ada sangkut pautnya antara pengentasan kemiskinan dan sastra, atau dengan komunitas sastra seperti Komunitas Kampoeng Jerami? Tetapi, hari ini saya makin paham bila semua elemen sosial memang ada kaitannya dan semua memang memiliki tanggung jawab yang sama secara personal atau makhluk sosial. Sehingga tak bisa dibentangkan jarak penyair dengan realitas sosialnya dan saya bersama kawan-kawan yang lain telah dapat pelajaran penting dari perjalanan panjang Buku Kumpulan Puisi Titik Temu yang menganggat tema HAM.

            Kembali pada puisi Aedh Mengharapkan Kain Sorga ini rupanya dan seperti yang sampai pada rasaku oleh perbedaan kaya dan miskin dari seseorang pada seseorang yang lainnnya yang ditambatkan dari hasil amatan subyek dan obyeknya. Disamping memotret kemiskinan dan tema perbedaan sosial puisi ini ingin mewartakan yang disisir dari seluruh belahan dunia bahwa masih kerap perbedaan kulit, agama, suku, kasta dan lebih-lebih harta akan menjadi alasan untuk bermusuhan, akan menjadi pemicu perbedaan dan akan menjadi penebal jarak antara si obyek dan si subyek, atau si subyek dengan si obyek, atau si kaya dan si miskin.

 

  1. Kekuatan EMOSI dalam puisi

 

Dalam perihal emosi puisi ini, saya merasakan kepiluan, perih dan benar seolah benar-benar bukan lagi orang lain yang digambarkan dalam puisi ini. Tapi, langsung menohok diri kita sendiri. Atau bisa saya coba tarik kesimpulan sederhana bahwa menulis puisi itu mesti benar-benar mengalami rasanya, mengalami pergulatan bathinnnya. Sehingga puisi hadir matang dari dalam dan tak harus dipaksakan proses bersalinnya karena mungkin ketika proses bersalinn yang dipaksakan akan terasa banyak hal yang janggal.

Kemampuan bergumul dengan amatan dan mengalurkan perasaan dalam bentuk emosi yang dalam adalah kesiapan jiwa menjadi penyair sehingga dari sisi amatan yang kuat dan mengalurkan perasaannya dengan tepat membuat alunan jiwa akan membuat kekuatan dalam puisi itu terasa hidup, terasa punya nyawa. Hal itu menurut pandangan saya memang ketika penyair atau penulis yang hanya setengah hati maka setengah hati juga hasil endapan emosi yang dapat terasa juga dalam karya tersebut. Sehingga, ketika membaca puisi yang hanya berpatok pada kata setengah itu tak akan sampai pada bathin atau penasaran atau rasa sakit, senang, atau nyeri yang tiba-tiba dialami oleh pembaca.

Sekali lagi, kekuatan emosi dalam berkarya itu juga sangat menentukan bagaimana puisi atau karya mampu dengan sigap menemui pembacanya dan si pembaca begitu bahagia karena telah menemukan karya yang begitu hebat. Dan, demi mencapai emosi yang kuat dan akhirnya menjadi ruh dalam puisi memang harus lahir dari amatan, mesti benar-benar merasakan, memiliki data, meski data di sini bukan seperti data pada ilmu penelitian sehingga tak terjebak pada satu kerangka. Karena penelitian dan amatan dalam dunia sastra tidak sama dengan penelitian dari ilmu pengetahuan yang lain.

Akhirnya saya ingin kembali pada puisi Aedh Mengharap Kain Sorga ini dengan melakukan pemotogan dari puisi guna menemukan berapa hal yang jiwa saya merasakan pesan di dalamnya.  Misalnya, saya akan meletakkannya begini :

 

Seandainya aku punya kain sulaman sorga,

Berhiaskan cahaya perak dan keemasan,

Kain malam cahaya dan separoh cahaya,

Yang biru yang suram dan yang kelam,

Akan kugelar kain itu di bawah kakimu:

 

            Awalnya, saya melakukan dua kemungkinan karena ada kain sorga itu seolah jadi penanda kalau ini akan berbicara soal aku hamba dan Engkau Tuhannya. Tetapi, ketika saya terus berulang-ulang membaca memang tujuan dan sasaran awal ini bukan Tuhan yang seperti dimaksud oleh saya di awal. Akhirnya, saya memilih kemungkinan kedua. Dan, dari kemungkinan kedua inilah saya merasakan ada hubungan mendatar antar manusia dangan menusia. Berulang kali saya membacanya dan ternyata memang lebih mendekatkan pada kemungkinan kedua. Bahwa ini adalah ungkapan pada manusia. Awalnya pun sangat berwajah personal. Semisal sepasang kekasih di ujung malam, di akhir petang, di suatu senja sedang merana karena tak mungkin bersama karena kebersamaannya banyak ditentang dan  perbedaan yang menjulang tinggi serta dinding yang begitu tebal berbeton kemiskinan.

            Dan pada baris: “kain malam cahaya dan separoh cahaya, yang biru yang suram dan yang kelam akan kugelar itu di bawah kakimu” rupanya ada penyerahan yang utuh yang seolah berkata begini: Kau utuh mengetahui aku, yang baik dan yang buruk, yang kerdil dan dekil dan dengan perlambang yang suram dan yang kelam. Perkataan suram-kelam seolah penegas bahwa apapun yang diminta akan diberikan.

Eh, jangan-jangan ini memang puisi yang banyak menyembunyikan pesan. Menyembunyikan berapa hal dan rupanya sementara ini saya akan tinggalkan berapa hal yang datang dari hati saya. Yang perlu saya sampaikan di sini betapa penulis dan para penyair dunia itu tak pernah se-kaku penyair-penyair kita. Saya, jadi ingat ketika dulu diajarkan menulis puisi dan penggunaan kata yang selalu disuruh edit dan hal-hal yang dimaksud begitu dianggap tak perlu karena sudah cukup dipahami. Padahal kata (yang) dan penghubung yang lainnya juga punya peran penting untuk tak mencegah aliran perasaan yang ketika membaca puisi apapun itu berguna sekali menciptakan suasananya. Dan hal inilah yang saya akan catat bahwa kata penghubung juga menentukan rima, bunyi dan irama yang ada dalam karya penyair. Lalu, saya akan meneruskan pada baris-baris selanjutnya :

 

Tetapi, karena miskin, aku hanya punya mimpi;

Telah kugelar mimpiku di bawah kakimu;

Lewatlah hati-hati sebab kau melewati mimpiku.

 

Pada baris-baris inilah saya mengalami situasi tekanan perasaan yang kuat. Saya merasakan ada aliran yang berbeda bentuk dari awalnya. Misal di atas seolah ada hubungan yang kuat aku dan engkau atau antara obyek dan subyeknya. Tetapi di baris-baris penutup ini membuat saya mesti pelan-pelan merasakannya kembali.  Pelan-pelan membacanya lagi dan pelan-pelan merasakan ada yang tersembunyi di dalam pesan baris-baris ini.

 

Tetapi, karena miskin, aku hanya punya mimpi;  pada baris ini dunia yang kelam, dunia yang amat sakit, perih dan seolah masih ada yang tersembunyi pada kekuatan kalimat Aku hanya punya mimpi.  Saya ingin mengajak diri saya membayangkan betapa setelah baris utuh di atas yang ingin punya kain sorga lalu meletakkan di kaki kekasihnya itu adalah bentuk pengandaian. Lalu, ada proses penyadaran diri terhadap realitas sosialnya dan serta mengatakan ini: Aku hanya punya mimpi. Terasa ngilu, getir dan perih.

Lantas, dilanjutkan dengan baris selanjutnya. Baris-baris yang dari awal amat kuat sampai pada titik yang selalu akan ada pukauan terhadap berapa hal yang dilahirkan dengan jiwa. Telah kugelar mimpiku di bawah kakimu;. Baris ini rupanya jadi bahan pengganti dan rupanya juga atas pengakuan ketakmampuan, atau atas semua perbedaan yang di awal itu adalah andai aku punya kain sulaman dari sorga maka aku hamparkan di kakimu dan dirimu berjalan di atasnya. Seumpama para raja atau ratu yang berjalan di karpet merah dan permadani. Tetapi, Katanya, ada dunia yang berbeda dari dunia “andai” tersebut yaitu dunia yang sesungguhnya. Dan pada dunia yang tak ada andai itulah menjadikan andai itu jadi mimpi. Dan kini, mimpi itu juga telah dihamparkan di kakimu. Baris-baris itu sangat kuasa menarik imajinasi dan emosi.

Dan pada baris terakhir dari puisi William inilah yang membuat bulu kuduk dan semua aliran darah serasa berhenti. “Lewatlah hati-hati sebab kau melewati mimpiku.”

dari baris ini saya merasakan ada roh yang berputar menyergap kesadaran yang mulai tadi telah dibangun. Dan baris ini kembali membuat saya menganga. Karena puisi di atas telah memiliki pesan kemanusiaan yang kuat. Coba misalnya saya akan narasikan seperti ini.

Lewatlah hati-hati sebab kau melewati mimpiku.” Saya memenjamkan mata saya dan merasakan kekuatan kata ini. Dulu, dari berbagai titik negera manapun isu kegagalan pengentasan kemiskinan, penyediaan lapangan pekerjaan, serta berbagai sektor yang kerap melahirkan kemiskinan semakin menumpuk. Maka pada titik itu biasanya ada perubahan sosial yang pelan-pelan bangkit dari rasa sakit, kecewa dan lapar. Sehingga sekelompok rasa sakit, marah, kecewa atas nama penderitaan yang sama membuat kekuatan yang luar biasa.

Apalagi ada sematan kata atau sekadar pernyataan yang menguatkan baris itu dari Presiden Soekarno bahwa kalau saya tak salah begini : “Tuhan berdiam diri di rumah orang miskin”  Atau dalam salah satu agama Iada dalil begini: Doa orang yang miskin dan tertindas akan dikabulkan Tuhan. Di baris “Lewatlah hati-hati sebab kau melewati mimpiku.”

Rupanya di sana pesan kemanusiaan yang seolah suara langit itu juga disampaikan dengan kuat agar semua sadar. Kalau kemiskinan dan rasa sakit untuk menyampaikan pesan agar hati-hati melewati jalan itu. Jalan atas tangis si miskin yang dengan rela memberikan kepercayaan dan harapan hidupnya.Kelak bila kalian (hai kata penyair dalam puisinya) tidak menyantuni yang miskin akan menjadi boomerang dan mala petaka. Misal teks ini dikaitkan dengan konteks perlawanan buruh, petani, miskin kota dan semua orang yang tertindas ada isyarat perubahan dalam bentuk revolusi. Mungkin benar jadinya bahwa hati dan perasaan orang miskin itu mesti dijaga dan jangan sampai dilukai apalagi dikhianati. Dan, siapapun tak boleh saling menyakiti dan terutamanya untuk si lemah dan si papa. Baris ini amat kuat.

 

Demikian, dari sekadar cara belajar saya. Sampai jumpa di proses belajar selanjutnya.

_________________________________________________________________________________

 

 

Fendi Kachonk, nama Pena dari Efendi. Lahir di lingkungan pendesaan di Desa Moncek Kecamatan Lenteng kabupaten Sumenep.  Beberapa puisinya pernah tergabung dalam Antologi Bersama Sandal Kumal (2011), Indonesia Titik 13 (2012), Lentera Sastra (2013), Istana Air (2014) Seruni (2014) Hujan Kampoeng Jerami (2014), Memo Untuk Presiden (2014), Titik Temu (2014), Buku Antologi  tunggalnya Lembah Kupu-kupu (2014). Sekarang Aktif di Komunitas Kampoeng Jerami, sebuah komunitas yang bergerak dibidang kepenulisan yang ia rintis dengan kawan-kawannya dan  Puisi, Cerpen dan Esainya pernah menghiasi halaman Majalah Sastra Horison, Kabar Madura, Konfrontasi, Rima News, Bedah News, News Sabah Malaysia. Beberapa kali diundang dalam pertemuan sastra baik nasional dan Internasional seperti pertemuan Baca Puisi Dunia Numera Kuala Lumpur 2014. Email : fendi_kachonk@yahoo.co.id.

Category: 
Loading...