29 April 2017

Opini

Peran Adik Ternyata Hancurkan Ahok Lewat Pledoi "Ikan Nemo"

Fifi Lety Indra, adik biologis Ahok, yang masuk dalam tim penasihat hukum Basuki Tjahaya Purnama (BTP), malah memberi efek negatif kepada nama baik sang kakak dan upaya pembelaan hukum terhadapnya.

Bayangkan, pengacara muda tak berpengalaman bersandingan dengan nama-nama besar pengacara senior seperti Trimoelja D. Soerjadi, Humphrey R. Djemat, Sirra Prayuna, Teguh Samudera, I Wayan Sudirta, dan nama lainnya, tetapi lagaknya melebihi advokat sekelas almarhum Adnan Buyung Nasution.

Suara sumbang mengenai Fifi menyeruak. Tim penasihat hukum yang terlihat begitu solid itu, sebenarnya menyimpan bara di dalamnya. Konon, beberapa orang penasihat hukum menyatakan ingin keluar dari tim pensihat hukum BTP karena tersinggung dengan sikap Fifi.

Ada apa dengan Fifi? Tingkah apa yang dibuat Fifi, sehingga membuat tim penasihat hukum Ahok menjadi terpecah? Lantas mengapa bisa ada kemungkinan Fifi sendiri yang akan menghancurkan Ahok?

Menurut sumber, Fifi kerap kali blunder, baik terkait pernyataan di media massa maupun sikapnya yang cenderung angkuh. Fifi kerap kali tidak bisa membedakan posisinya sebagai tim penasihat hukum atau sebagai adik Ahok. Fifi juga tidak paham dengan konstelasi dan perkembangan yang terjadi di luar. Fifi pun tidak menghormati pengacara-pengacara yang lebih senior. Dalam beberapa sidang, Fifi sering ditegur hakim karena pertanyan-pertanyaannya yang tidak substantif.

Dan terakhir, mungkin yang paling parah, Fifi adalah orang di balik Pledoi "Ikan Nemo".

Masih ingatkah ketika Fifi membuat pernyataan heboh "Al-Quran diturunkan oleh Nabi Muhammad SAW"? Sebuah pernyataan yang sesungguhnya masuk delik penodaan agama lebih berat dari delik kakaknya. Namun sayang, ACTA mencabut gugatannya karena lebih fokus ke Ahok.

Sikap otoriter Fifi membuat harmonisasi tim BTP menjadi retak. Bahkan, dalam setiap sidang, Fifi membatasi tim pengacara yang bertanya dan tidak segan menghentikan pertanyaan itu kalau tidak sreg dengan pemikirannya. Padahal, menurut keterangan, beberapa pihak pengacara yang tergabung dalam penasihat hukum BTP free of charge alias tidak dibayar. Para pensihat hukum dengan sukarela membela Ahok. Namun pribahasa air susu di balas air tuba.

Anehnya, sang Kakak (Ahok) sangat menuruti langkah-langkah yang diambil oleh adiknya itu. Ada apa? Lantas apa hubungannya dengan pledoi "Ikan Nemo" yang dibacakan Ahok?

Coba perhatikan lebih cermat pledoi yang dibacakan Ahok, Selasa (25/4) lalu. Pasti ada yang aneh. Pledoi yang diberi judul "Melayani Walau Difitnah", jauh dari kata menarik. Isinya sangat datar, tidak substantif dan tidak menggambarkan pokok persoalan yang dibahas di persidangan.

Bandingkan dengan eksepsi yang dibacakan Ahok di awal-awal persidangan dulu; begitu dalam, berisi, komprehensif serta menggugah orang-orang yang hadir di persidangan maupun pemirsa yang menonton tayangan ulang karena sidang sendiri di awal-awal tertutup.

Sementara dalam pledoi kemarin, Ahok seakan mengkerdilkan dirinya sendiri. Mengibaratkan Ahok dengan ‘Finding Nemo’ sekuel film animasi anak-anak seperti kehilangan contoh konkret. Masak, Ahok dibandingkan dengan tokoh fiktif. Argumentasi Nemo, ikan kecil yang berani melawan arus sama seperti Ahok sekarang, buat saya itu out of context . Nemo si Ikan kecil, kalau dibahas lebih jauh, setelah terpisah dari bapaknya justru dalam beberapa kesempatan tidak melawan arus. Bahkan si Nemo dalam beberapa kesempatan se-arus dan bergaul dengan macam-macam ikan, baik yang kecil dan besar, yang beracun dan yang tidak. Apakah Ahok bergaul dengan koruptor atau ikan beracun?!

Yang bikin geger dan tidak diketahui publik, yaitu perkara sensitif yang satu ini. Fifi bersikeras memasukkan referensi Islam Sontoloyo yang pernah disampaikan Bung Karno di tahun 1940-an. Dan, ajaibnya, itu di-aminkan saja oleh sang kakak.

Ahok Memang Melayani, Tapi dengan Cara yang Tidak Baik

Saya ajak dan ingatkan Anda untuk gak cengeng soal isu agama ini. Saya sendiri mulai muak dengan banyak pendukung Ahok terus berkutat soal ini.

Begini cara kita melihat isu agama itu secara tak cengeng.

Senin Sore di Rumah Buni Yani

KONFRONTASI- Lelaki berkacamata minusitu keluar dari pintu dan menyambut dengan hangat. Senyumnya mengembang lebar di wajahnya yang berseri. Dengan peci berwarna putih, bersarung kotak-kotak, dan berbaju koko putih lengan panjang dengan  aksen colekat muda memanjang ke bawah, Buni Yani mempersilakan saya masuk ke rumahnya, di kawassan Cilodong, Depok, Jawa Barat. Sebuah rumah yang asri, dengan tetananaman di halaman. Rumahnya sama sekali tidak besar, hanya tipe 45 dengan luas lahan 114 m2.

Saya tidak mengira, Senin sore itu akhirnya bisa jumpa dengan sosok yang berjasa besar kepada ummat Islam ini. Lewat unggahan video pidato Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok di Kepulauan Seribu yang menista surat al Maidah ayat 51, Buni berhasil membangkitkan ghiroh ummat atas penistaan terhadap agamanya.

“Rasa cemburu atau ghiroh dalam konteks beragama adalah konsekuensi dari Iman itu sendiri. Jika agamamu, nabimu, kitabmu dihina dan engkau diam saja, jelaslah ghiroh telah hilang darimu. Jika ghiroh telah hilang dari hati, gantilah bajumu dengan kain kafan. Sebab kehilangan ghiroh sama dengan mati,” tulis ulama besar Buya Hamka dalam bukunya yang berjudul Ghiroh.

Ghiroh yang dipantik video penistaan agama oleh Ahok inilah yang berbuah protes yang merebak di mana-mana. Demo yang berbalut tajuk aksi bela Islam digelar berjilid-jilid di Jakarta, melibatkan ratusan ribu bahkan jutaan ummat yang ikhlas datang dari seantero negeri.

Buni berperawakan sedang saja, bahkan bisa disebut kecil. Lelaki kelahiran Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) 48 tahun lalu itu benar-benar bersahaja. Kami duduk di ruang tamu dengan lebar 3 meter. Hanya ada satu set meja kursi sederhana berwarna cokelat gelap. Jarak ruang tamu dan ruang keluarga yang juga merangkap ruang makan hanya dipisah oleh lemari buku kecil. Di sisi kiri pintu, juga ada lemari buku yang susunannya tidak bisa disebut rapi. Mungkin karena si empunya memang hobi membaca, hingga belum sempat meletakkan kembali buku yang usai dibacanya dengan rapi.

Sejak menjadi tersangka akibat video unggahannya menjadi viral, Buni memang harus mengubah ritme hidupnya. Sebelumnya dia adalah dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta Pusat. Namun, seiring dengan merebaknya kasus penistaan agama oleh Ahok, berbagai intimidasi dan ancaman terus bertubi-tubi menimpanya. Gangguan dan prilaku premanisme bahkan juga menghinggapi kampus tempatnya mengajar. Tidak ingin masalahnya merembet ke kampus, Buni memilih mengundurkan diri sebagai pengajar.

Tapi teror terus saja bergelombang datang. Telepon genggamnya dipenuhi berbagai pesan dan ancaman. Bahkan ada juga beberapa ancaman yang akan membunuh. Namun baginya semua itu dianggap sebagai risiko perjuangan.

“Syukur alhamdulillah, sejauh ini terror dan ancaman itu hanya ditujukan kepada saya saja. Allah masih melindungi anak dan istri dari hal serupa itu. Tapi beberapa kali para peneror datang ke rumah dengan mobil. Mereka tidak memang masuk, tapi hanya mondar-mandir di gang depan. Sesekali mereka memarkir mobilnya cukup lama pas di depan rumah tanpa keperluan yang jelas. Sepertinya orang-orang itu memang bermaksud menjatuhkan mental saya dan keluarga,” paparnya.

Obrolan hangat di sore yang cerah itu harus terhenti sejenak. Saya harus pamit ke masjid. Maklum, tadi berangkat belum masuk waktu sholat ashar. Kereta commuter line yang mengangkut saya dari stasiun Bojong Indah, Jakbar, memang tepat waktu. Tapi Obeth, anak muda pengemudi ojek Grab yang membawa saya dari stasiun Depok, rupanya tidak kenal jalan dan daerah Cilodong. Akibatnya kami harus berputar-putar memakan waktu hampir satu jam. Jadilah saya telat melaksanakan shalat ashar.

Neoliberalisme Ala Jokowi Bisa Jadi Neomaling

Oleh: Salamuddin Daeng (AEPI)

Sepanjang sejarah republik belum pernah ada pemerintahan yang sekasar ini dalam menjual negara. Sekarang kita menyaksikan di depan mata secara telanjang pemerintah menjalankan neoliberaliame secara membabi buta.

Mengapa China Bernafsu Bangun infrastruktur di Indonesia?

BEIJING- Sebelum kebijakan One Belt One Road (OBOR)-nya XI Jinping terbit, tidak boleh dipungkiri, bahwa embrionya adalah String of Pearls, yaitu strategi China guna mengamankan jalur ekspor-impornya terutama suplai energi (energy security) dari negara atau kawasan asal hingga ke kawasan tujuan.

Target jalur yang diincar ialah bentangan perairan dari pesisir Laut Cina Selatan, Selat Malaka, melintas Samudera Hindia, Laut Arab, Teluk Persia, dan lainnya, sehingga bila dibaca dalam peta, terlihat seperti untaian mutiara atau gambar kalung (Pearls).

Ahok Keok, PDIP Tertohok

Kalau saja Megawati Soekarnoputri, selaku Ketua Umum PDIP dikelilingi oleh penasehat-penasehat cerdas dan punya sikap negarawan, PDIP tidak sepatutnya mencalonkan Ahok Basuki Tjahaja Purnama dalam Pilkda 2017.

Karena Ahok selain bukan kader PDIP, prilaku pribadinya tidak sesuai dengan karakter partai berlambang banteng itu sendiri.   

Memang tidak ada rumusan tentang apa dan bagaimana karakter kader PDIP. Tetapi paling tidak kader itu - apalagi yang mau menjadi pemimpin di ibukota negara, bukanlah orang yang kata orang Betawi, manakala berbicara, mulutnya seperti "mulut comberan". Atau dalam perumpamaan lainnya, seperti orang yang siang lebih banyak bercengkerama dengan warga Ragunan yang tinggal di kompleks Taman Marga Satwa.

Kekeliruan PDIP mencalonkan Ahok semakin dirasakan sebagai sebuah kekeliruan fatal, karena tidak menimbang semua pernyataan Ahok tentang partai politik maupun PDIP.

Ahok sejak awal sebetulnya sudah meremehkan peran dan kredibilitas  parta-partai politik, termasuk PDIP. Sampai-sampai dia menyatakan hanya akan maju dalam Pilkada melalui jalur perorangan. Diajuga menyatakan, kalaupun dicalonkan partai, tapi dia tidak akan tunduk pada perintah partai.

Kini keputusan blunder PDIP itu, sudah berbuah yang buruk. Ahok kalah. Kekalahan tersebut tidak perlu disesali. Tapi justru harus disyukuri sebab pada akhirnya partai bisa membaca apa yang menjadi keinginan sesungguhnya oleh rakyat.

Rakyat ibukota sudah semakin cerdas. Sehingga dari kecerdasan rakyat ini partai harus sadar jika mau merekrut politisi atau calon anggota, ingatlah akan "Pengalaman Ahok".

Mayoritas rakyat Jakarta tidak memilih Ahok, justru perlu dilihat sebagai sebuah kecenderungan dan keniscayaan di masyarakat. Bahwa PDIP sebagai partai kader, hendaknya perlu melakukan evaluasi dan introspeksi tentang sistem rekrutmen yang selama ini diterapkan oleh partai.

Kekalahan Ahok di Pilkada Jakarta tidak bisa disimpulkan sebagai akibat dari strategi Anies-Sandiaga yang menggunakan isu SARA. Kalau boleh bersikap kritis, tanpa isu SARA pun, Ahok-Djarot secara matematika tidak mungkin menang. Karena dari hasil penghitungan suara di Putaran Pertama, selisih Ahok dan Aniesa relative tipis. Haya sekitar dua persen.
 
Nah perhitungan di atas kertas, pemilih pasangan Agus-Silvi di Putaran Pertama yang berjumlah 17 persen, itulah yang harus diperebutkan oleh Ahok dan Anies.  Sementara diyakini, tidak mungkin pemilih Agus-Silvi akan mengalihkan suara mereka semuanya ke Ahok. Mereka justru diperhitungkan akan lari ke Anies-Sandi.

Parade Kegagalan Ahok

Bagaikan Mafia Don yang mati, Ahok dikirimi karangan bunga. Seribuan karangan dari "kami yang gagal move on" penuhi Balai Kota.

Sebuah parade kegagalan. Unjuk ketololan. Pamer paralogis. Dan arogansi akbar. Bakal jadi sampah beberapa hari lagi. Ngga merubah apa pun. Ahok tumbang. Anies Sandi menang pilgub. Angkanya mutlak, dua digit.

Bila 1 karangan bunga berbudget 800 ribu, maka budgetnya jadi 800 juta. Hanya untuk karangan bunga. Sebuah kesia-siaan absolut.

Harumnya Bhinneka Tunggal Ika & Tempayan yang Retak

Alkisah seorang pemuda memiliki dua buah tempayan untuk mencari air. Kedua tempayan itu dipikul di pundak dengan menggunakan sebatang bambu. Salah satu dari tempayan itu retak, sedangkan yang satunya tanpa cela. Setibanya di rumah, setelah menempuh perjalanan panjang dari sungai, air di tempayan yang retak tinggal setengah. Sementara air di tempayan yang tidak retak utuh.

Hal tersebut berlangsung setiap hari. Seiring berjalannya waktu, hari berganti, minggu berlalu, bulan berganti nama, tahun bertambah.

Inikah Cara Jokowi 'Ambil Alih' PDIP dan Golkar Sekaligus?

Jokowi terlihat tidak happy dengan kekalahan yang di alami oleh Ahok di Pilgub DKI lalu. Meski hasil quick count menunjukkan angka kekalahan telak, jagoannya yang pernah menjadi wakilnya saat sebagai Gubernur. Tapi dapat dipastikan saat real count KPUD DKI, Ahok pasti out.

Semoga Dahlan Iskan Diberikan Balasan Keadilan.

Oleh: Imam Shamsi Ali*
 
Beberapai lalu saya mendapat pesan singkat lewat WhatsApp jika pak Dahlan divonis bersalah dengan tuntutan penjara dua tahun di pengadilan tinggi Surabaya. Kota di mana beliau membangun bisnis besarnya, sekaligus kota yang dalam beberapa saat ini sudah menjadi penjaranya sendiri (tahanan kota).

Pages

Berita Terkait