27 March 2019

Opini

Kompas Menjawab Hasil Survei

Kompas dari dulu dikenal sebagai media yang membawa kesejukan. Saya kira itu saja yang diteruskan di saat politik hangat.” (Pesan Wakil Presiden M Jusuf Kalla kepada pimpinan Kompas saat bertemu di Kantor Wapres, Kamis, 21 Maret 2019, seperti dikutip CEO Kompas-Gramedia Lilik Oetama.)

Soal Pemberantasan Korupsi, KPK yang Layak Dipuji, Bukan Jokowi

Klebun Se-Madura Ditekan, Rakyat Melawan

Belum lama ini beredar rekaman suara “laporan” kepada Pak Umar tentang dikumpulkannya Kepala Desa (Klebun) se-Madura yang konon (katanya lho!) dari Badan Intelijen Negara (BIN). Isi laporan adalah, bahwa Klebun wajib memenangkan Capres 01 apapun caranya agar rakyatnya memilih petahana. Intinya para Klebun se-Madura ditekan untuk memenangkan pasangan Jokowi – Ma’ruf. Bahkan disebutkan adanya iming-iming biaya operasional sebesar 60 milyar per desa. Wuiiihhh! Dana desa saja, belum 1 milyar setahun selama pemerintahan rejim ini.

Tabligh Akbar Ma’ruf Amin Dihadiri 54 Orang

Oleh: Asyari Usman

 


 

Angka “54 orang” di judul tulisan ini bukan salah ketik. Memang hanya 54 orang yang menunggu di lapangan yang begitu luas. Jadi, bukan 54 ribu. Bahkan bukan 540.

Kelihatannya, inilah momen yang paling menyedihkan bagi cawapres 01, Kiyai Ma’ruf Amin. Pada hari Sabtu (9/3/2019), beliau dipermalukan di Deliserdang. Tabligh akbar yang direncanakan dengan serius, pentas besar di lapangan yang juga besar, tak jadi beliau hadiri karena hanya ada 54 warga yang datang. Kasihan sekali, sebenarnya.

Di MRT, Jokowi Kehilangan Simpati

Oleh: Tony Rosyid

 


Saat ini, warga Jabodetabek sudah bisa menikmati transportasi publik Mode Raya Terpadu (MRT). Cukup 30 menit dari Lebak Bulus ke Bundaran HI. Kalau pakai mobil, bisa 1,5 jam. Hemat 1 jam. Lumayan, pakai banget.

Selamat Jalan Pak Joko Widodo, Mengarungi Hidup Baru

SELAMAT JALAN PAK JOKOWI
[Sebuah Cerpen]

Oleh : Nasrudin Joha

Sore itu suasana tampak suram, selain mendung menggulung terlihat pula wajah sembab keluarga Pak Joko yang dilanda kesedihan dan duka yang mendalam. Bu Joko, nampak masih terisak menahan tangis.

"Pak, apa kita memang harus pulang ke Solo ?" Tanya Bu Joko Widodo kepada suaminya.

Jancuk Mau Melawan Siapa?

Oleh: Edy Mulyadi*

Sebetulnya siapa, sih, lawan Joko Widodo? Pertanyaan ini menjadi amat penting, terutama ketika mantan tukang mebel itu meneriakkan kemarahannya di Stadion Kridosono, Yogyakarta, Sabtu (23/3) silam. Di hadapan ribuan pendukungnya, lelaki yang kini betarung sebagai Capres petahana itu menumpahkan kemarahannya. “Saya akan lawan!”

Berdansalah, Prabowo

Oleh : Akhmad Danial. 
Dosen FIDIKOM UIN Jakarta. 

Melihat "ulah" kocak Prabowo dan Sandiaga Uno saat menerima dukungan 1000 lebih pengusaha yg tergabung dalam Aliansi Pengusaha Nasional tadi malam, saya punya satu kesimpulan. PRABOWO BAHAGIA.

Penampilannya sangat lepas. Sambutannya penuh canda tawa. Puncaknya, saya lupa konteks pernyataannya, dia berjoget kembali di panggung. Mirip dgn apa yg dilakukannya saat debat Capres pertama dulu. 

Marah Tanda Kalah: Sombong, Watak Asli Iblis

Oleh : Ahmad Sastra

Kapan seorang petinju akan kalah, jika dia sudah terpancing emosi dan marah. Sebab emosi seorang petinju akan berpengaruh akurasi pukulan menjadi tidak terarah. Saat pukulan tak lagi terarah itulah dia akan mudah untuk dijatuhkan. 

Zeng Wei Jian: Putih Bukan Kita

Oleh: Zeng Wei Jian

Bos Pabrik Polling Denny JA salah lagi. Konten essay "Putih Adalah Kita" cacat fakta. Misalnya, Denny JA menyatakan "Isaac Newton mengembangkan teori soal warna". 

Yang benar, Sir Isaac Newton berexpriment dengan cahaya. Dia bukan pelukis. Tapi scientist. Exprimentnya menghasilkan "corpuscular theory of light" dan disebut "Newton’s Opticks".

Denny JA menulis "putih" adalah hasil ketika semua warna bercampur. "Hitam" itu warna ketika semua warna tidak hadir satupun.

Pages